Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Sekedar Menulis

A I N I

Jadi ingat saban hari, datang dadakan ke pesta ulang tahun yang ke-satu anak lelaki pertama seorang teman. beli kadonya pun buru-buru, di minimarket pinggir jalan, mainan seadanya yang ada di etalase yang ketika itu sedikit berdebu, bungkusnya pun berantakan, malah awalnya salah jalan menyimpang 180 derajat, tempatnya di utara kami perginya ke selatan, jadinya telat, waktu makan-makan dan bincang-bincang pun berkurang, tetapi itu membuatku sadar, ini lain cerita, cerita tentang perasaan, cerita tentang cinta, jikalau cinta sejati itu kadang ternyata datangnya buru-buru, dadakan dan tidak terduga, karena di hari itu, di pesta ulang tahun yang ke-satu anak lelaki pertama seorang teman, hatiku berpesta, mataku gemerlap, senyumku sumringah, karena di halaman rumah itu, dengan kursi berderet-deret tidak teratur, aku menemukanmu, lagi.

*spica

wajahmu malam tanpa jalan pulang. senyummu malam rumah yang selalu aku rindu. tetapi matamu malam yang penuh bintang, konstelasi-konstelasi cahaya bak wanita masa lalu, yang menutun arahku. aku. jatuh. cinta. dengan. malam

makanya kamu cantik

bulan itu jauh makanya cantik sama seperti kamu yang jauh di masa nanti jauh di ujung imajinasi jauh di balik pelangi makanya kamu cantik ... ... ... resiko orang cantik (lirik lagu yang saya dengar tadi sore di warung bakso), tidak dapat digapai oleh penyu yang berenang sendiri di laut lepas yang maha luas.

Sepasang: Langit, dan Daun-Daun Abu-Abu

Cerita tentang bunga bernama Apetala yang jatuh cinta dengan seekor burung bernama Hummingbird. Si bunga adalah wanita pemalu, selalu memakai tudung yang tidak bercorak berwarna, hanya putih polos. Jika dia lewat di depanmu, tidak akan kau cium aroma apapun, hanya seperti angin lembut yang lewat di musim gugur. Tetapi wanita itu punya puisi-puisi, yang dia tulis di setiap urat-urat daunnya, puisi indah untuk seorang pengelana, sendiri. Terbang. Seperti pelangi. Dialah si burung, Hummingbird, yang terbang seperti pelangi, yang kepakan sayapnya anggun, seperti tarian gerimis yang membuat semua bunga. Jatuh. Cinta. Hummingbird, punya rahasia. Dia letih untuk selalu terbang, dan ingin rumah untuk kembali pulang. Rumah yang tidak dia ditemukan di langit. Mana pun. Rahasia lain, yang Hummingbird simpan: selalu ketika sore, terbang bersandar awan. Dia memandang daun Apetala. Membaca puisinya. Kata. Demi kata. Helai demi daun. [Mereka tinggal di taman] yang jauh dari kota, dekat dengan des...

Coba Melihat Ke Bawah

Coba melihat ke bawah. Rindu ini adalah rumput-rumput basah, yang selalu mengamati. Setiap langkahmu. Aku tahu semalam hujan, aku tahu semalam dingin, tetapi kau tetap berjalan pulang. Coba melihat ke bawah. Butiran gula dari remah-remah roti, yang menjadi bekalmu untuk pulang. Aku mengingatnya. Selalu. Menyimpannya. Dalam hati. Dalam. Rinduku.

Seperti Mimpi

Ketika mulai jatuh cinta, diri mulai tidak jujur dengan diri sendiri. Menjadi orang lain dalam khayalanmu, menjadi orang lain yang seperti dirimu. Aku tidak berdiri lagi dengan kakiku, tidak berlari lagi dengan kakiku, dan juga tidak melompat lagi dengan kakiku. Apa ini yang akan membawaku lebih dekat padamu? Bahkan sekarang pun aku mengendarai sepeda untuk dapat selalu mengejarmu. Namanya Resky, bukan i tetapi pakai y, tetapi aku lebih suka memanggilnya Kiki, pakai i-i bukan y-y. Dia pun tidak keberatan jika aku memanggilnya begitu, meski semua orang-orang memanggilnya Resky. Dia seorang wanita dengan nama pria. Entah mengapa nama itu yang aku suka darinya. Dia bekerja sebagai penjaja minuman kesehatan yang bersepeda keliling gang setiap sore. Namun yang aku tunggu-tunggu bukanlah minuman itu, bukan juga bunyi kring-kring sepedanya. Dia suka tersenyum, dan itu yang aku tunggu darinya. Aku. Jatuh. Cinta. Padanya.

Sepasang Kupu-Kupu di Jendelaku

Langit deras oleh pilu hujan yang berteriak kelam. Memutus titian antara aku dengan harapan yang berubah menjadi awan tipis. Awan yang justru menurunkan hujan yang selalu membuatku terlelap. Hujan itu selalu mengalirkan rasa. Aku lihat jendelaku, yang membingkai hujan, dalam rasa keharuanku. Ya, sepasang kupu-kupu di jendelaku, yang terbang terbingkai oleh keharuanku. Jendela dengan jeruji-jeruji bisu. Aku lihat kupu-kupu itu hinggap di sana. Sayapnya menari-nari mengibaskan pelangi, menari-nari melukis warna senja, menari-menari berkilau terbias hujan. Pelangi tersenyum di jendelaku.

desa hujan - 1

Desa hujan sebuah tempat dimana aku meninggalkan rindu, meninggalkan penat karena tidak bisa mengucapkan cinta kepadamu. Rinduku tumbuh seperti jamur putih di musim hujan, berbunga seperti Trifolium, dan wangi petrichor menghiasi rasa itu. Sesal dan rindu apa bedanya bagiku, kini kau jauh seperti pelangi yang tidak akan pernah bisa aku sentuh, seperti pelangi yang terus menjauh ketika aku mendekat. Adakah juga kau menyesal, ketika aku tidak berani dan kau hanya duduk tertunduk malu di sampingku?   Aku menyesal. Sampai sekarang, pun.

Pandangan Pertama

Dari mata turun ke hati, begitu yang sering terdengar. Ketika pandanganmu terhenti beberapa detik oleh sebingkai wajah, setali senyuman, mata yang dalam, bentuk hidung bahkan dagu yang hanya bisa dipandang tertunduk. Seperti memandang langit malam yang penuh bintang, waktu seakan berhenti karena butuh beberapa ribu tahun untuk menggapai satu bintang saja. Percaya pada cinta pandangan pertama berarti harus menunggu, menunggu, dan menunggu waktu yang tepat apakah pandangan itu benar-benar telah jatuh pada cinta yang kau harapkan, jodoh yang ditentukan, atau takdir yang ingin kau tulis sendiri. Dan berbicara tentang diriku yang sedikit percaya pada cinta pandangan pertama. Pandanganku telah terhenti padamu, kurang dari empat detik, mata dan lengkung bibirmu. Waktu seakan berhenti melesatkan pikiranku ke masa silam, mengingatkanku pada seorang gadis impian. Dari mata turun ke hati. Namun melihat keadaanku saat ini, cukuplah cinta itu di depan mataku saja karena sudah terlambat ...

Hari Ketika Kau Meninggalkanku, Lagi

Seekor kelinci hitam besar, dia memandangiku. Di atas air yang berwarna hijau yang rasanya seperti teh. Kami berdua saling menatap jauh ke dalam mata kami satu sama lain. Di dalam mata kelinci itu aku menemukan wajah ayahku, senyum itu yang sudah lama tidak aku temukan. Kelinci besar itu lalu berubah menjadi kabut putih yang serentak berubah lagi menjadi ratusan kelinci putih yang melompat-lompat menjauhiku di atas air, lalu tenggelam. Aku seketika ikut tenggelam, namun airnya telah berubah jernih, di dalamnya aku lihat ratusan ngengat yang terbang melintasi tubuhku menghamburkan serbuk-serbuk jingga, terbang dengan anggun dari dasar yang gelap menuju bulan kuning yang bulat di atas permukaan sana. Aku cium aroma harum buah apel dari ngengat-ngengat itu.

Portal

Mungkin di dunia paralel—jika itu memang ada; aku yakin kita berdua telah bersama. Namun mungkin juga di dunia paralel itu—jika itu memang ada; kamu yang menulis ini dan aku menunggu, hanya menunggu.