Jadi ingat saban hari, datang dadakan ke pesta ulang
tahun yang ke-satu anak lelaki pertama seorang teman. beli kadonya pun
buru-buru, di minimarket pinggir jalan, mainan seadanya yang ada di etalase
yang ketika itu sedikit berdebu, bungkusnya pun berantakan, malah awalnya salah
jalan menyimpang 180 derajat, tempatnya di utara kami perginya ke selatan,
jadinya telat, waktu makan-makan dan bincang-bincang pun berkurang, tetapi itu
membuatku sadar, ini lain cerita, cerita tentang perasaan, cerita tentang cinta,
jikalau cinta sejati itu kadang ternyata datangnya buru-buru, dadakan dan tidak
terduga, karena di hari itu, di pesta ulang tahun yang ke-satu anak lelaki
pertama seorang teman, hatiku berpesta, mataku gemerlap, senyumku sumringah,
karena di halaman rumah itu, dengan kursi berderet-deret tidak teratur, aku
menemukanmu, lagi.
Cerita tentang bunga bernama Apetala yang jatuh cinta dengan seekor burung bernama Hummingbird. Si bunga adalah wanita pemalu, selalu memakai tudung yang tidak bercorak berwarna, hanya putih polos. Jika dia lewat di depanmu, tidak akan kau cium aroma apapun, hanya seperti angin lembut yang lewat di musim gugur. Tetapi wanita itu punya puisi-puisi, yang dia tulis di setiap urat-urat daunnya, puisi indah untuk seorang pengelana, sendiri. Terbang. Seperti pelangi. Dialah si burung, Hummingbird, yang terbang seperti pelangi, yang kepakan sayapnya anggun, seperti tarian gerimis yang membuat semua bunga. Jatuh. Cinta. Hummingbird, punya rahasia. Dia letih untuk selalu terbang, dan ingin rumah untuk kembali pulang. Rumah yang tidak dia ditemukan di langit. Mana pun. Rahasia lain, yang Hummingbird simpan: selalu ketika sore, terbang bersandar awan. Dia memandang daun Apetala. Membaca puisinya. Kata. Demi kata. Helai demi daun. [Mereka tinggal di taman] yang jauh dari kota, dekat dengan des...
Comments
Post a Comment