Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Alienated

Sebuah Tangan Melambai Padaku

saya, memberenggut nafas, berlari sebuah lorong panjang di hadapanku kaki langit bumi yang miring pecahan-pecahan kisah cinta pertama dalam kenangan yang panjang sebuah tangan melambai padaku di antara jarum-jarum dingin cemara menusuk dalam ... jauh ke dalam hati sebuah tangan melambai padaku

alien tea shop

Hari itu hujan turun gerimis, tetapi tetap juga aku memakai payung kala keluar rumah waktu itu. Pukul sembilan malam, seperti biasa di malam Sabtu aku keluar mengunjungi coffee shop depan stasiun, stasiun bus antar-kota yang selalu saja ramai kecuali malam, yang dekat perpustakaan umum yang selalu saja sunyi entah itu malam ataupun siang, dekat kolam ikan besar yang hanya dipenuhi oleh banyak katak dan kecebong; dan dekat toko ATK yang siang harinya selalu penuh oleh anak-anak sekolah, dan malam harinya selalu aku datangi. Di toko ATK itu aku berhenti sebentar, membeli refill untuk cutter di rumah, di sini pula aku men-sengajakan diri untuk bertemu Jingga, perempuan yang aku suka, si penjaga malam toko ATK, aku mengajaknya untuk bertemu nanti di coffee shop sebelah. “Hai,” kata Jingga langsung menyapaku ketika masuk ke toko. Dia tahu kalau aku menyukainya. Aku pernah bilang padanya, dan jawabannya. “Hai juga,” jawabku, mendahului lamunanku, “Jingga, nanti ke sebelah, yuk .” ...

H I L A N G

rumah kecil berhalaman kecil yang berdua kita tinggali bersama rumah masa lalu ketika langit itu luas berisi kisah-kisah yang seakan tanpa ujung. masa lalu mengapa pergi? kau pun pergi yang tertinggal hanyalah rekaman-rekaman suaramu. sendiri rumah ini terasa luas, ya, mataku luas tetapi dada-dada ini sesak bayangan suaramu yang menjelma jarum-jarum mengisi rumah ini rumah yang dulu aku damba karena rumah yang berisi senyum-senyummu. ya, mataku luas tetapi basah menghilang teriris rindu yang pedih mungkin masa lalu adalah rumah yang cocok saja untukku rumah di mana kau masih ada duduk di sofa biru sambil menyisir rambutku hingga bintang-bintang menghilang menghilang.

Yang Kau Beri

dulu aku masih ingat ketika aku memanggilmu untuk ikut denganku namun kau hanya berdiri seperti tidak memikirkan apa pun lalu kau tersenyum sekali: lalu pergi dan sekarang aku sadari kalau senyumanmu yang terakhir itu adalah satu-satunya alasanku untuk mencarimu, menemukanmu dan membawamu: pulang

Sepasang: Langit, dan Daun-Daun Abu-Abu

Cerita tentang bunga bernama Apetala yang jatuh cinta dengan seekor burung bernama Hummingbird. Si bunga adalah wanita pemalu, selalu memakai tudung yang tidak bercorak berwarna, hanya putih polos. Jika dia lewat di depanmu, tidak akan kau cium aroma apapun, hanya seperti angin lembut yang lewat di musim gugur. Tetapi wanita itu punya puisi-puisi, yang dia tulis di setiap urat-urat daunnya, puisi indah untuk seorang pengelana, sendiri. Terbang. Seperti pelangi. Dialah si burung, Hummingbird, yang terbang seperti pelangi, yang kepakan sayapnya anggun, seperti tarian gerimis yang membuat semua bunga. Jatuh. Cinta. Hummingbird, punya rahasia. Dia letih untuk selalu terbang, dan ingin rumah untuk kembali pulang. Rumah yang tidak dia ditemukan di langit. Mana pun. Rahasia lain, yang Hummingbird simpan: selalu ketika sore, terbang bersandar awan. Dia memandang daun Apetala. Membaca puisinya. Kata. Demi kata. Helai demi daun. [Mereka tinggal di taman] yang jauh dari kota, dekat dengan des...

Coba Melihat Ke Bawah

Coba melihat ke bawah. Rindu ini adalah rumput-rumput basah, yang selalu mengamati. Setiap langkahmu. Aku tahu semalam hujan, aku tahu semalam dingin, tetapi kau tetap berjalan pulang. Coba melihat ke bawah. Butiran gula dari remah-remah roti, yang menjadi bekalmu untuk pulang. Aku mengingatnya. Selalu. Menyimpannya. Dalam hati. Dalam. Rinduku.