Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

Sepasang Mata

Ketika jarum-jarum cemara sunyi Dalam kesulitanku mencari Angin kering berembus dingin Selapis awan merah menusuk langit Dalam warna senja langit jingga Sepasang mata teduh menatap jauh Ke dalam hati tanpa dasar

rumah

rumah tak ku temukan di sudut jalan dengan tiang lampu kelap-kelip penuh ngengat. rumah tak ku temukan di sudut jalan dengan parit berair jernih penuh berudu. rumah tak ku temukan di sudut jalan dengan setangkai bunga kuning tepi trotoar. rumah. ku temukan di sudut senyummu dengan pipi merah kelap-kelip sinar matamu. rumah. ku temukan di sudut senyummu dengan kata mengalir jernih mengisi dadaku. rumah. ku temukan di sudut senyummu merekah bak kelopak dan setangkai tumbuh di hati. setangkai jua cinta untukmu. rumah.

Sebuah Tangan Melambai Padaku

saya, memberenggut nafas, berlari sebuah lorong panjang di hadapanku kaki langit bumi yang miring pecahan-pecahan kisah cinta pertama dalam kenangan yang panjang sebuah tangan melambai padaku di antara jarum-jarum dingin cemara menusuk dalam ... jauh ke dalam hati sebuah tangan melambai padaku

*spica

wajahmu malam tanpa jalan pulang. senyummu malam rumah yang selalu aku rindu. tetapi matamu malam yang penuh bintang, konstelasi-konstelasi cahaya bak wanita masa lalu, yang menutun arahku. aku. jatuh. cinta. dengan. malam

H I L A N G

rumah kecil berhalaman kecil yang berdua kita tinggali bersama rumah masa lalu ketika langit itu luas berisi kisah-kisah yang seakan tanpa ujung. masa lalu mengapa pergi? kau pun pergi yang tertinggal hanyalah rekaman-rekaman suaramu. sendiri rumah ini terasa luas, ya, mataku luas tetapi dada-dada ini sesak bayangan suaramu yang menjelma jarum-jarum mengisi rumah ini rumah yang dulu aku damba karena rumah yang berisi senyum-senyummu. ya, mataku luas tetapi basah menghilang teriris rindu yang pedih mungkin masa lalu adalah rumah yang cocok saja untukku rumah di mana kau masih ada duduk di sofa biru sambil menyisir rambutku hingga bintang-bintang menghilang menghilang.

Yang Kau Beri

dulu aku masih ingat ketika aku memanggilmu untuk ikut denganku namun kau hanya berdiri seperti tidak memikirkan apa pun lalu kau tersenyum sekali: lalu pergi dan sekarang aku sadari kalau senyumanmu yang terakhir itu adalah satu-satunya alasanku untuk mencarimu, menemukanmu dan membawamu: pulang

Coba Melihat Ke Bawah

Coba melihat ke bawah. Rindu ini adalah rumput-rumput basah, yang selalu mengamati. Setiap langkahmu. Aku tahu semalam hujan, aku tahu semalam dingin, tetapi kau tetap berjalan pulang. Coba melihat ke bawah. Butiran gula dari remah-remah roti, yang menjadi bekalmu untuk pulang. Aku mengingatnya. Selalu. Menyimpannya. Dalam hati. Dalam. Rinduku.

Serangkai Sajak Cinta - 3

Untukmu kasih Aku tuliskan Cinta di setiap lembar langit sajakku Cinta di setiap urat daun Cinta di setiap senja sajakku Serangkai sajak cinta Serangkai purnama rindu Serangkai embun Serangkai kabut Serangkai ungu rona awan jingga Untukmu kasih Aku tuliskan Cinta di setiap lembar langit sajakku Di setiap bait cahaya bintang Serangkai sajak cinta Untukmu jua

Kaki Langit

Bintang menepis Sepi bulan Bulan beredar Menulis kisah Untuk bumi Matahari merangkul pinus Menyemat pagi di antara Daun-daun jarum Pinus menepis Sepi gunung Angin berbisik aku akan melindungimu Aku empaskan malam Aku lelehkan siang Antara   Timur                                   barat Kaki langit

Seperti Teka-Teki

Cintamu seperti teka-teki Batu itu pun Daun itu pun Teka-teki yang selalu berhembus Bulan dilamun teka-teki Awan lukiskan kekosongan hitam Seperti teka-teki Jalan waktu sesatkan malam Seperti teka-teki Memenuhi malam Meniti angin lalu berhembus Merangkul hidup mengubahnya Seperti teka-teki By me, 2007

Kenangan

oh, dimana cinta itu mungkin hanyut atau dipatuk ayam atau terbang menuju awan sembunyi ternyata cinta ada di hati tertutup rapat di dasar rindu dan sepi ternyata cinta ada di hati seorang lelaki yang sendiri By me, 2008

Puisi Bulan Cendawan Putih III

Seribu cendawan putih t umbuh di hati. … Kala musim hujan datang terlambat menutup bulan. Cahaya bulan berpendar di antara tiang-tiang hujan. Hujan pun menjadi kata, m enumbuhkan cendawan putih di hati seorang pria, dan embun pun menjadi puisi di atasnya.

Puisi Bulan Cendawan Putih I

s ebuah wajah menangkap cahaya bulan di antara ilalang-ilalang hijau musim hujan seribu kata beku tenggelam dingin ketika hati basah oleh embun musim hujan namun, sebuah rindu hangat di dalam hati meski pun   basah oleh embun musim hujan cendawan putih tumbuh di hati seorang pria.