Seekor kelinci
hitam besar, dia memandangiku. Di atas air yang berwarna hijau yang
rasanya seperti teh. Kami berdua saling menatap jauh ke dalam mata
kami satu sama lain. Di dalam mata kelinci itu aku menemukan wajah
ayahku, senyum itu yang sudah lama tidak aku temukan. Kelinci besar
itu lalu berubah menjadi kabut putih yang serentak berubah lagi
menjadi ratusan kelinci putih yang melompat-lompat menjauhiku di atas
air, lalu tenggelam. Aku seketika ikut tenggelam, namun airnya telah
berubah jernih, di dalamnya aku lihat ratusan ngengat yang terbang
melintasi tubuhku menghamburkan serbuk-serbuk jingga, terbang dengan
anggun dari dasar yang gelap menuju bulan kuning yang bulat di atas
permukaan sana. Aku cium aroma harum buah apel dari ngengat-ngengat
itu.
Mencoba untuk membuat introduksi yang menarik agar pembaca terkesan, namun apa daya hanya mampu menulis ini: ketika peserta edutrip lainnya mencoba menulis berita, di sini saya hanya akan bercerita. Semua orang suka cerita. Ralat. Anak-anak suka cerita. Cerita ini tentang anak-anak yang melakukan perjalanan dari kota abu-abu menuju pulau hijau. Di setiap sudut jalan dia mendapati akan arti penting dari pulau hijau tersebut, tentang orang-orang ramah yang menempati pulau itu. Dan tentang pulau itu sendiri yang memiliki kehidupan, kenanga n dan masa depan. Hal itu membuat mereka berpikir untuk mengubah kota abu-abu dimana mereka tinggal menjadi kota-kota hijau dimana masa depan menjadi lebih penuh harapan. Di pulau hijau, tempat dimana kau tinggal, maksudnya mangrove dengan segala fungsinya baik secara ekologis, fisik, maupun sosial dan dengan segala apa yang berada di dalam mangrove tersebut, kelelawar, ikan-ikan, para burung dan hewan-hewan bercangkang. Secara ekolo...
Comments
Post a Comment