Seekor kelinci
hitam besar, dia memandangiku. Di atas air yang berwarna hijau yang
rasanya seperti teh. Kami berdua saling menatap jauh ke dalam mata
kami satu sama lain. Di dalam mata kelinci itu aku menemukan wajah
ayahku, senyum itu yang sudah lama tidak aku temukan. Kelinci besar
itu lalu berubah menjadi kabut putih yang serentak berubah lagi
menjadi ratusan kelinci putih yang melompat-lompat menjauhiku di atas
air, lalu tenggelam. Aku seketika ikut tenggelam, namun airnya telah
berubah jernih, di dalamnya aku lihat ratusan ngengat yang terbang
melintasi tubuhku menghamburkan serbuk-serbuk jingga, terbang dengan
anggun dari dasar yang gelap menuju bulan kuning yang bulat di atas
permukaan sana. Aku cium aroma harum buah apel dari ngengat-ngengat
itu.
Cerita tentang bunga bernama Apetala yang jatuh cinta dengan seekor burung bernama Hummingbird. Si bunga adalah wanita pemalu, selalu memakai tudung yang tidak bercorak berwarna, hanya putih polos. Jika dia lewat di depanmu, tidak akan kau cium aroma apapun, hanya seperti angin lembut yang lewat di musim gugur. Tetapi wanita itu punya puisi-puisi, yang dia tulis di setiap urat-urat daunnya, puisi indah untuk seorang pengelana, sendiri. Terbang. Seperti pelangi. Dialah si burung, Hummingbird, yang terbang seperti pelangi, yang kepakan sayapnya anggun, seperti tarian gerimis yang membuat semua bunga. Jatuh. Cinta. Hummingbird, punya rahasia. Dia letih untuk selalu terbang, dan ingin rumah untuk kembali pulang. Rumah yang tidak dia ditemukan di langit. Mana pun. Rahasia lain, yang Hummingbird simpan: selalu ketika sore, terbang bersandar awan. Dia memandang daun Apetala. Membaca puisinya. Kata. Demi kata. Helai demi daun. [Mereka tinggal di taman] yang jauh dari kota, dekat dengan des...
Comments
Post a Comment