Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

Seperti Mimpi

Ketika mulai jatuh cinta, diri mulai tidak jujur dengan diri sendiri. Menjadi orang lain dalam khayalanmu, menjadi orang lain yang seperti dirimu. Aku tidak berdiri lagi dengan kakiku, tidak berlari lagi dengan kakiku, dan juga tidak melompat lagi dengan kakiku. Apa ini yang akan membawaku lebih dekat padamu? Bahkan sekarang pun aku mengendarai sepeda untuk dapat selalu mengejarmu. Namanya Resky, bukan i tetapi pakai y, tetapi aku lebih suka memanggilnya Kiki, pakai i-i bukan y-y. Dia pun tidak keberatan jika aku memanggilnya begitu, meski semua orang-orang memanggilnya Resky. Dia seorang wanita dengan nama pria. Entah mengapa nama itu yang aku suka darinya. Dia bekerja sebagai penjaja minuman kesehatan yang bersepeda keliling gang setiap sore. Namun yang aku tunggu-tunggu bukanlah minuman itu, bukan juga bunyi kring-kring sepedanya. Dia suka tersenyum, dan itu yang aku tunggu darinya. Aku. Jatuh. Cinta. Padanya.

Cinta Bola Lampu

           Ini kisahku, kisah biasa tentang seorang pria biasa yang mengejar cinta yang juga biasa saja, anggapku sih begitu. Waktu SD aku dianggap bodoh, disuruh membaca aku tidak mau, menjawab soal pun aku tidak mau, kerjaku di kelas hanya menggambar dan mencoret-coret buku tulis . Dan berakhir, aku menyelesaikan masa SD selama 8 tahun. Di SMP pun sama, namun gambarku mulai sedikit lebih bagus, begitu kata teman-temanku. Dan aku pun sanggup menyelesaikan masa SMP tepat waktu. Aku memang tidak begitu pintar, namun juga tidak bodoh. Sebuah gambar lebih berarti dibandingkan seribu kata, aku pernah mendengar itu dan menurutku memang benar. Walaupun bapak selalu memarahiku karena tidak pernah sekali pun aku masuk dalam jajaran peringkat 10 teratas di kelas bahkan peringkat 25 pun tidak pernah. Di SMA, aku mulai berpikir kalau keadaanku akan berubah menjadi lebih baik. Namun sebaliknya hal yang terparah pun terjadi, belum cukup ...

Kucing Hilang

Sebuah gerbang besi tua berderit terbuka. Mereka bertiga berjalan masuk melewati serakan daun-daun kering coklat berbau lapuk. Mereka pun mempercepat langkah d an jalan berdampingan saling memegang tangan. Langit malam saat itu berawan dengan cahaya bulan bulat memantul di balik awan yang berarak. Karena cahaya bulan cukup terang , mereka mematikan senter dan melihat sekeliling . Terlihat pagar besi tua itu mengelilingi halaman rumah kosong yang luas , hanya sebuah pohon beringin rimbun berdiri di samping jalur antara gerbang dengan pintu rumah itu. Rumah dengan pintu besar, tingginya sekitar 2,84 meter dengan dua daun pintu masing-masing lebar sekitar 1,42 meter. “Pasti butuh waktu tiga bulan untuk membuat pintu-pintu ini. Eeh, bukan! Dengan ukiran-ukiran ini, lihat! Begitu detail dan rumit pasti butuh lima bulan untuk menyelesaikannya . Ya , pasti lima bulan.” Kata seorang di antara mereka sambil memegang dagu dengan berbinar ingin tahu memandang ke pintu itu. “ K au li...