Skip to main content

Posts

A I N I

Jadi ingat saban hari, datang dadakan ke pesta ulang tahun yang ke-satu anak lelaki pertama seorang teman. beli kadonya pun buru-buru, di minimarket pinggir jalan, mainan seadanya yang ada di etalase yang ketika itu sedikit berdebu, bungkusnya pun berantakan, malah awalnya salah jalan menyimpang 180 derajat, tempatnya di utara kami perginya ke selatan, jadinya telat, waktu makan-makan dan bincang-bincang pun berkurang, tetapi itu membuatku sadar, ini lain cerita, cerita tentang perasaan, cerita tentang cinta, jikalau cinta sejati itu kadang ternyata datangnya buru-buru, dadakan dan tidak terduga, karena di hari itu, di pesta ulang tahun yang ke-satu anak lelaki pertama seorang teman, hatiku berpesta, mataku gemerlap, senyumku sumringah, karena di halaman rumah itu, dengan kursi berderet-deret tidak teratur, aku menemukanmu, lagi.

alien tea shop

Hari itu hujan turun gerimis, tetapi tetap juga aku memakai payung kala keluar rumah waktu itu. Pukul sembilan malam, seperti biasa di malam Sabtu aku keluar mengunjungi coffee shop depan stasiun, stasiun bus antar-kota yang selalu saja ramai kecuali malam, yang dekat perpustakaan umum yang selalu saja sunyi entah itu malam ataupun siang, dekat kolam ikan besar yang hanya dipenuhi oleh banyak katak dan kecebong; dan dekat toko ATK yang siang harinya selalu penuh oleh anak-anak sekolah, dan malam harinya selalu aku datangi. Di toko ATK itu aku berhenti sebentar, membeli refill untuk cutter di rumah, di sini pula aku men-sengajakan diri untuk bertemu Jingga, perempuan yang aku suka, si penjaga malam toko ATK, aku mengajaknya untuk bertemu nanti di coffee shop sebelah. “Hai,” kata Jingga langsung menyapaku ketika masuk ke toko. Dia tahu kalau aku menyukainya. Aku pernah bilang padanya, dan jawabannya. “Hai juga,” jawabku, mendahului lamunanku, “Jingga, nanti ke sebelah, yuk .” ...

*spica

wajahmu malam tanpa jalan pulang. senyummu malam rumah yang selalu aku rindu. tetapi matamu malam yang penuh bintang, konstelasi-konstelasi cahaya bak wanita masa lalu, yang menutun arahku. aku. jatuh. cinta. dengan. malam

makanya kamu cantik

bulan itu jauh makanya cantik sama seperti kamu yang jauh di masa nanti jauh di ujung imajinasi jauh di balik pelangi makanya kamu cantik ... ... ... resiko orang cantik (lirik lagu yang saya dengar tadi sore di warung bakso), tidak dapat digapai oleh penyu yang berenang sendiri di laut lepas yang maha luas.

Abu-abu dan Hijau; Pannikiang dan Mangrove (Sepotong Kisah Edutrip)

Mencoba untuk membuat introduksi yang menarik agar pembaca terkesan, namun apa daya hanya mampu   menulis ini: ketika peserta edutrip lainnya mencoba menulis berita, di sini saya hanya akan bercerita. Semua orang suka cerita. Ralat. Anak-anak suka cerita. Cerita ini tentang anak-anak yang melakukan perjalanan dari kota abu-abu menuju pulau hijau. Di setiap sudut jalan dia mendapati akan arti penting dari pulau hijau tersebut, tentang orang-orang ramah yang menempati pulau itu. Dan tentang pulau itu sendiri yang memiliki kehidupan, kenanga n dan masa depan. Hal itu membuat mereka berpikir untuk mengubah kota abu-abu dimana mereka tinggal menjadi kota-kota hijau dimana masa depan menjadi lebih penuh harapan.   Di pulau hijau, tempat dimana kau tinggal, maksudnya mangrove dengan segala fungsinya baik secara ekologis, fisik, maupun sosial dan dengan segala apa yang berada di dalam mangrove tersebut, kelelawar, ikan-ikan, para burung dan hewan-hewan bercangkang. Secara ekolo...

H I L A N G

rumah kecil berhalaman kecil yang berdua kita tinggali bersama rumah masa lalu ketika langit itu luas berisi kisah-kisah yang seakan tanpa ujung. masa lalu mengapa pergi? kau pun pergi yang tertinggal hanyalah rekaman-rekaman suaramu. sendiri rumah ini terasa luas, ya, mataku luas tetapi dada-dada ini sesak bayangan suaramu yang menjelma jarum-jarum mengisi rumah ini rumah yang dulu aku damba karena rumah yang berisi senyum-senyummu. ya, mataku luas tetapi basah menghilang teriris rindu yang pedih mungkin masa lalu adalah rumah yang cocok saja untukku rumah di mana kau masih ada duduk di sofa biru sambil menyisir rambutku hingga bintang-bintang menghilang menghilang.

Yang Kau Beri

dulu aku masih ingat ketika aku memanggilmu untuk ikut denganku namun kau hanya berdiri seperti tidak memikirkan apa pun lalu kau tersenyum sekali: lalu pergi dan sekarang aku sadari kalau senyumanmu yang terakhir itu adalah satu-satunya alasanku untuk mencarimu, menemukanmu dan membawamu: pulang