Skip to main content

Posts

Abu-abu dan Hijau; Pannikiang dan Mangrove (Sepotong Kisah Edutrip)

Mencoba untuk membuat introduksi yang menarik agar pembaca terkesan, namun apa daya hanya mampu   menulis ini: ketika peserta edutrip lainnya mencoba menulis berita, di sini saya hanya akan bercerita. Semua orang suka cerita. Ralat. Anak-anak suka cerita. Cerita ini tentang anak-anak yang melakukan perjalanan dari kota abu-abu menuju pulau hijau. Di setiap sudut jalan dia mendapati akan arti penting dari pulau hijau tersebut, tentang orang-orang ramah yang menempati pulau itu. Dan tentang pulau itu sendiri yang memiliki kehidupan, kenanga n dan masa depan. Hal itu membuat mereka berpikir untuk mengubah kota abu-abu dimana mereka tinggal menjadi kota-kota hijau dimana masa depan menjadi lebih penuh harapan.   Di pulau hijau, tempat dimana kau tinggal, maksudnya mangrove dengan segala fungsinya baik secara ekologis, fisik, maupun sosial dan dengan segala apa yang berada di dalam mangrove tersebut, kelelawar, ikan-ikan, para burung dan hewan-hewan bercangkang. Secara ekolo...

H I L A N G

rumah kecil berhalaman kecil yang berdua kita tinggali bersama rumah masa lalu ketika langit itu luas berisi kisah-kisah yang seakan tanpa ujung. masa lalu mengapa pergi? kau pun pergi yang tertinggal hanyalah rekaman-rekaman suaramu. sendiri rumah ini terasa luas, ya, mataku luas tetapi dada-dada ini sesak bayangan suaramu yang menjelma jarum-jarum mengisi rumah ini rumah yang dulu aku damba karena rumah yang berisi senyum-senyummu. ya, mataku luas tetapi basah menghilang teriris rindu yang pedih mungkin masa lalu adalah rumah yang cocok saja untukku rumah di mana kau masih ada duduk di sofa biru sambil menyisir rambutku hingga bintang-bintang menghilang menghilang.

Yang Kau Beri

dulu aku masih ingat ketika aku memanggilmu untuk ikut denganku namun kau hanya berdiri seperti tidak memikirkan apa pun lalu kau tersenyum sekali: lalu pergi dan sekarang aku sadari kalau senyumanmu yang terakhir itu adalah satu-satunya alasanku untuk mencarimu, menemukanmu dan membawamu: pulang

Sepasang: Langit, dan Daun-Daun Abu-Abu

Cerita tentang bunga bernama Apetala yang jatuh cinta dengan seekor burung bernama Hummingbird. Si bunga adalah wanita pemalu, selalu memakai tudung yang tidak bercorak berwarna, hanya putih polos. Jika dia lewat di depanmu, tidak akan kau cium aroma apapun, hanya seperti angin lembut yang lewat di musim gugur. Tetapi wanita itu punya puisi-puisi, yang dia tulis di setiap urat-urat daunnya, puisi indah untuk seorang pengelana, sendiri. Terbang. Seperti pelangi. Dialah si burung, Hummingbird, yang terbang seperti pelangi, yang kepakan sayapnya anggun, seperti tarian gerimis yang membuat semua bunga. Jatuh. Cinta. Hummingbird, punya rahasia. Dia letih untuk selalu terbang, dan ingin rumah untuk kembali pulang. Rumah yang tidak dia ditemukan di langit. Mana pun. Rahasia lain, yang Hummingbird simpan: selalu ketika sore, terbang bersandar awan. Dia memandang daun Apetala. Membaca puisinya. Kata. Demi kata. Helai demi daun. [Mereka tinggal di taman] yang jauh dari kota, dekat dengan des...

Coba Melihat Ke Bawah

Coba melihat ke bawah. Rindu ini adalah rumput-rumput basah, yang selalu mengamati. Setiap langkahmu. Aku tahu semalam hujan, aku tahu semalam dingin, tetapi kau tetap berjalan pulang. Coba melihat ke bawah. Butiran gula dari remah-remah roti, yang menjadi bekalmu untuk pulang. Aku mengingatnya. Selalu. Menyimpannya. Dalam hati. Dalam. Rinduku.

Seperti Mimpi

Ketika mulai jatuh cinta, diri mulai tidak jujur dengan diri sendiri. Menjadi orang lain dalam khayalanmu, menjadi orang lain yang seperti dirimu. Aku tidak berdiri lagi dengan kakiku, tidak berlari lagi dengan kakiku, dan juga tidak melompat lagi dengan kakiku. Apa ini yang akan membawaku lebih dekat padamu? Bahkan sekarang pun aku mengendarai sepeda untuk dapat selalu mengejarmu. Namanya Resky, bukan i tetapi pakai y, tetapi aku lebih suka memanggilnya Kiki, pakai i-i bukan y-y. Dia pun tidak keberatan jika aku memanggilnya begitu, meski semua orang-orang memanggilnya Resky. Dia seorang wanita dengan nama pria. Entah mengapa nama itu yang aku suka darinya. Dia bekerja sebagai penjaja minuman kesehatan yang bersepeda keliling gang setiap sore. Namun yang aku tunggu-tunggu bukanlah minuman itu, bukan juga bunyi kring-kring sepedanya. Dia suka tersenyum, dan itu yang aku tunggu darinya. Aku. Jatuh. Cinta. Padanya.