Ada sebuah kisah tentang seekor lebah, raja
lebah, yang telah hidup bersama dengan ratu lebah membina kerajaan lebah.
Namun, suatu ketika seekor kupu-kupu terbang melintas di balik jendela istana
lebah. Seketika itu pula pikiran aneh melintas di benak raja lebah. Setiap hari
kupu-kupu itu melintas. Setiap hari pula raja lebah bingung tentang apa yang dia pikirkan. Setiap hari, setiap hari, hingga suatu ketika dinding istana lebah
itu hancur menyisakan ruang untuk kupu-kupu itu masuk. Akhirnya, raja lebah itu
sadar bahwa ia telah jatuh cinta kepada kupu-kupu itu. Itulah pikiran aneh yang
selama ini. Dia sadar
cinta itu membawa perbedaan, dunia mereka berbeda, rentang umur mereka berbeda,
dan faktanya raja lebah mati sebelum sempat mencintai. Cinta baginya adalah kerangka
yang pasti dan tidak sebebas kupu-kupu
yang terbang melintas di alam mimpinya.
Cerita tentang bunga bernama Apetala yang jatuh cinta dengan seekor burung bernama Hummingbird. Si bunga adalah wanita pemalu, selalu memakai tudung yang tidak bercorak berwarna, hanya putih polos. Jika dia lewat di depanmu, tidak akan kau cium aroma apapun, hanya seperti angin lembut yang lewat di musim gugur. Tetapi wanita itu punya puisi-puisi, yang dia tulis di setiap urat-urat daunnya, puisi indah untuk seorang pengelana, sendiri. Terbang. Seperti pelangi. Dialah si burung, Hummingbird, yang terbang seperti pelangi, yang kepakan sayapnya anggun, seperti tarian gerimis yang membuat semua bunga. Jatuh. Cinta. Hummingbird, punya rahasia. Dia letih untuk selalu terbang, dan ingin rumah untuk kembali pulang. Rumah yang tidak dia ditemukan di langit. Mana pun. Rahasia lain, yang Hummingbird simpan: selalu ketika sore, terbang bersandar awan. Dia memandang daun Apetala. Membaca puisinya. Kata. Demi kata. Helai demi daun. [Mereka tinggal di taman] yang jauh dari kota, dekat dengan des...
Comments
Post a Comment